
TIMETODAY.ID — Langit Korea Selatan memerah. Asap pekat mengepul, menyelimuti wilayah tenggara negeri itu. Sejak akhir pekan lalu, kobaran api yang tak terkendali telah menghanguskan ribuan hektare hutan, memaksa puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka, dan merenggut setidaknya 24 nyawa.
Bagi banyak warga, ini bukan sekadar bencana alam biasa—ini adalah tragedi yang mengguncang, baik secara fisik maupun emosional.
Lari dari Kobaran Api
Di sebuah sekolah dasar di Kota Andong, Kwon So-han (79) duduk di sudut ruangan, masih terguncang. Ia kehilangan rumahnya dalam hitungan menit.
“Anginnya sangat kencang. Begitu mendapat perintah evakuasi, saya langsung lari,” katanya dengan mata berkaca-kaca. “Api datang dari gunung dan langsung membakar rumah saya. Yang belum mengalaminya tidak akan mengerti—saya hanya bisa menyelamatkan diri.”
Kwon adalah satu dari 27.000 warga yang terpaksa mengungsi akibat bencana ini. Banyak yang melarikan diri dengan tangan kosong, tak sempat membawa barang berharga, bahkan dokumen penting.
Kehancuran yang Belum Pernah Terjadi
Menurut pejabat Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan, kebakaran ini menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah Korea Selatan. Dengan lebih dari 17.000 hektare lahan terbakar, sebagian besar di Uiseong, kebakaran ini hanya kalah luas dibandingkan tragedi tahun 2000 yang menghanguskan hampir 24.000 hektare di pesisir timur.
Tak hanya merenggut nyawa warga, kobaran api juga menelan korban dari pihak penyelamat. Setidaknya tiga petugas pemadam kebakaran gugur dalam tugas, dan seorang pilot helikopter tewas saat pesawatnya jatuh di kawasan pegunungan.
Warisan Dunia dalam Bahaya
Tak hanya kehilangan manusia dan lahan, Korea Selatan juga terancam kehilangan bagian dari sejarahnya. Dua situs warisan dunia UNESCO kini berada dalam bahaya, dengan api yang terus mendekat.
Salah satu yang sudah terdampak adalah sebuah kuil berusia 1.300 tahun, yang menjadi saksi bisu peradaban kuno di negeri Ginseng. Kehilangan ini tidak hanya dirasakan oleh warga Korea Selatan, tetapi juga oleh dunia yang mengakui nilai sejarah dan budaya dari bangunan tersebut.
Melampaui Perkiraan
Penjabat Presiden Korea Selatan, Han Duck-soo, menyatakan bahwa bencana ini melampaui semua prediksi sebelumnya. “Kebakaran yang berlangsung selama lima hari berturut-turut telah menimbulkan kerusakan luar biasa,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi.
Saat ini, tim pemadam kebakaran masih berjuang mengendalikan api di beberapa titik. Namun, dengan cuaca kering dan angin kencang yang terus berhembus, tugas mereka semakin berat.
Sementara itu, warga seperti Kwon So-han hanya bisa berharap. Berharap agar api segera padam. Berharap agar rumah-rumah mereka tidak rata dengan tanah. Berharap agar tragedi ini segera berakhir.
Namun, satu hal yang pasti: luka dari kebakaran ini akan membekas dalam ingatan mereka untuk waktu yang sangat lama.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel



































