
TIMETODAY.ID, BOGOR – Hujan deras yang turun sejak pagi membawa kisah baru bagi Situ Cikaret. Selasa (4/3/2025), danau ini seolah tak lagi sanggup menahan amarahnya. Airnya meluap, menggerayangi aspal Jalan Lingkar Situ Cikaret Harapan Jaya, menenggelamkan rutinitas warga. Kendaraan mendadak tak berdaya, mesin-mesin mogok seperti tercekik oleh genangan yang tak kunjung surut.
Bagi sebagian orang, banjir ini hanyalah akibat curah hujan yang tinggi. Namun, bagi mereka yang akrab dengan kisah-kisah lampau, ini bisa jadi pertanda bahwa sang situ tengah menggeliat, mengingatkan manusia agar tak lupa pada jejak sejarah dan mitos yang menyelimutinya.
Sejak dahulu, Situ Cikaret bukan sekadar genangan air biasa. Ia menyimpan cerita, berbisik melalui riak tenangnya, dan kadang menampakkan amarahnya dengan cara yang tak terduga. Warga sekitar percaya, tempat ini memiliki penghuni yang tak kasatmata.
Banyak yang berkata, siapa pun yang datang dengan kesombongan, bisa mengalami kejadian aneh. Air yang semula tenang bisa tiba-tiba beriak tanpa angin, atau bahkan meninggi seolah ada kekuatan tak terlihat yang mengaduknya. Seorang pemancing pernah bersaksi melihat pancuran air setinggi dua meter muncul entah dari mana, seperti pertanda bahwa ada sesuatu yang terganggu.
Cerita-cerita tentang pengunjung yang hilang di kedalaman situ juga tak terhitung jumlahnya. Terakhir kali, pada tahun 2016, seorang pria ditemukan mengambang tanpa nyawa. Kisah seperti ini berulang, hingga akhirnya menumbuhkan mitos bahwa siapa pun yang berlaku sembrono, bisa saja menemui nasib serupa.
Namun, di balik misteri dan cerita angker yang melekat, Situ Cikaret sejatinya menyimpan nilai sejarah yang tak ternilai. Dibangun pada masa penjajahan Belanda, danau ini merupakan bagian dari sistem pengendalian banjir di wilayah Ciliwung. Namanya sendiri berasal dari sejarah kawasan sekitarnya yang dahulu merupakan perkebunan karet “Ci” berarti air, dan “Karet” merujuk pada pohon karet yang mendominasi area tersebut.
Kini, meski kisah mistisnya tetap hidup dalam bisik-bisik warga, Situ Cikaret tetap menjadi tempat pelarian bagi mereka yang ingin sejenak menjauh dari kebisingan kota. Pepohonan rindang yang mengelilinginya memberikan keteduhan, sementara warung-warung kecil di tepi danau menjadi saksi bisu perbincangan santai para pengunjung.
Namun, ketika hujan deras turun dan air mulai meluap, orang-orang kembali teringat: bahwa Situ Cikaret bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan juga kekuatan alam yang tak bisa diremehkan. Hari itu, ia mengingatkan manusia bahwa keseimbangan harus dijaga baik dengan sesama maupun dengan yang tak terlihat. ***







































