TIMETODAY.ID — emerintahan Donald Trump mulai mengambil langkah konkret untuk menghambat pengembangan industri mobil listrik (EV) di Amerika Serikat (AS). Salah satu kebijakan terbaru yang menuai kontroversi adalah penutupan sejumlah stasiun pengisian daya kendaraan listrik di berbagai wilayah.
Pencabutan Kebijakan Era Joe Biden
Sejak kampanye, Donald Trump telah menegaskan dukungannya terhadap industri bahan bakar fosil. Setelah resmi menjabat, ia langsung mencabut mandat kendaraan listrik yang diterapkan pada era Joe Biden, yang sebelumnya mendorong percepatan transisi ke energi bersih.
Meskipun sempat melunak ketika mendapat dukungan dari CEO Tesla, Elon Musk, Trump akhirnya tetap melanjutkan kebijakan yang dinilai merugikan industri EV.
Kini, langkah lebih drastis mulai diterapkan, termasuk pemangkasan infrastruktur pendukung kendaraan listrik.
Penutupan Ribuan Stasiun Pengisian Daya
Menurut laporan The Verge, dikutip dari Tech Crunch, pemerintahan Trump melalui Lembaga Layanan Umum (General Services Administration/GSA) telah mengeluarkan perintah untuk menutup seluruh jaringan stasiun pengisian daya kendaraan listrik yang berada di bawah pengelolaan pemerintah federal.
GSA diketahui mengoperasikan ratusan stasiun dengan total sekitar 8.000 colokan, yang selama ini digunakan untuk mengisi daya kendaraan listrik milik pemerintah dan pegawai negeri sipil.
Beberapa kantor regional di berbagai negara bagian telah mulai menutup fasilitas pengisian daya ini. Di Denver, Colorado, misalnya, pemerintah setempat telah mengumumkan penghentian operasional stasiun pengisian daya di Denver Federal Center.
Imbas bagi Industri dan Kebijakan Energi Berkelanjutan
Keputusan ini tentu membawa dampak besar terhadap industri mobil listrik di Amerika Serikat.
Selain menghambat penggunaan kendaraan listrik di kalangan pegawai pemerintah, langkah ini juga dikhawatirkan akan mengurangi minat masyarakat dalam beralih ke kendaraan listrik, terutama dengan keterbatasan akses ke infrastruktur pengisian daya.
Selain itu, pemerintahan Trump juga memangkas anggaran untuk berbagai program energi berkelanjutan.
Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk memperluas jaringan pengisian daya EV di seluruh negeri kini telah dihentikan. Keputusan ini semakin mengindikasikan pergeseran kebijakan energi AS kembali ke ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Masa Depan Kendaraan Listrik di AS
Meskipun menghadapi tantangan besar, para pendukung kendaraan listrik berharap industri EV tetap bisa bertahan dan berkembang.
Beberapa perusahaan otomotif, termasuk Tesla, masih berupaya untuk mengembangkan infrastruktur pengisian daya independen guna mengurangi ketergantungan pada fasilitas milik pemerintah.
Namun, dengan perubahan kebijakan yang drastis ini, masa depan kendaraan listrik di Amerika Serikat akan sangat bergantung pada langkah-langkah yang akan diambil oleh industri otomotif dan pemerintah negara bagian yang masih mendukung transisi ke energi bersih.
Sementara itu, para pemerhati lingkungan dan pelaku industri terus mendorong adanya kebijakan yang lebih berkelanjutan demi masa depan transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































