Cerita Nadia, Siswi Kristen yang Menemukan Rumah Kedua di MTs Nurul Huda

Nadia
Nadia Putri Darmawan (16) saat ditemui wartawan di kediamannya, Rabu (20/11/2024).

TIMETODAY.ID – Di sebuah gang sempit Jalan Sumur Wangi, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat berdiri sebuah madrasah yang menyimpan cerita tentang toleransi dan perjuangan pendidikan.

Di sanalah, Nadia Putri Darmawan (16), seorang siswi kelas sembilan menjalani hari-harinya sebagai pelajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Huda meski berbeda keyakinan.

Kisah ini bermula ketika Nadia dan keluarganya pindah dari Jakarta ke Bogor pada 2016 silam. Kepindahan itu membawa banyak perubahan, terutama dalam kehidupan pendidikan Nadia.

Advertisement

Ibunya, Mery Natalia (38), seorang pekerja serabutan, harus mencari sekolah yang terjangkau dan dekat dengan rumah. Dengan segala keterbatasan administratif dan finansial, MI Nurul Huda menjadi pilihan pertama.

“Karena persyaratan administrasi yang tidak lengkap, akhirnya Nadia saya masukkan ke MI Nurul Huda. Dekat juga dari rumah,” kenang Mery lirih.

Setelah menyelesaikan jenjang MI, keterbatasan ekonomi memaksa Nadia untuk melanjutkan ke MTs Nurul Huda, yang berada dalam naungan yayasan yang sama. Meski awalnya ada keraguan, keputusan itu justru memberikan pengalaman yang tak terduga.

Baca Juga :  Mimpi yang Tergadai di Ujung Cangkul

“Waktu itu sulit mengurus surat pindah ke sekolah lain. Akhirnya kami putuskan Nadia tetap di sini, karena sekolah sudah mengenal kami dan sangat membantu,” jelas Mery.

Di madrasah, Nadia menjalani hari-hari dengan penuh pengertian dari lingkungan sekolah. Meski berbeda keyakinan, ia tidak pernah merasa terasing. Teman-temannya memperlakukannya dengan biasa, dan pihak sekolah memberikan kelonggaran dalam pelajaran agama.

“Pihak sekolah tahu kami Kristen, jadi Nadia tidak diwajibkan ikut pelajaran agama Islam. Mereka sangat memahami,” kata Mery.

Kisah toleransi ini tidak hanya mencerminkan pengertian dari pihak sekolah, tetapi juga semangat Nadia yang tetap berusaha meski menghadapi berbagai tantangan. Dalam kesehariannya, Nadia tetap bisa menjalani kehidupan sebagai pelajar tanpa merasa dipaksa mengikuti aturan yang bertentangan dengan keyakinannya.

“Teman-teman baik-baik aja kok. Dari sekolah juga nggak wajib pakai kerudung, jadi saya merasa nyaman,” tutur Nadia.

Di balik senyum Nadia, ada perjuangan besar yang harus dilalui keluarganya. Ayahnya, yang dulu bekerja di sebuah perusahaan, kini harus berjualan sayur keliling setelah terkena PHK. Kondisi ini membuat keluarga mereka harus berjuang keras untuk melunasi tunggakan biaya sekolah.

Baca Juga :  Mengelola Pernikahan Jarak Jauh: Cerita, Tantangan, dan Kekuatan Keluarga

“Kami punya tunggakan di MI dan MTs, tapi pihak sekolah tidak pernah menekan kami untuk segera membayar,” ujar Mery, dengan mata berkaca-kaca.

Meski penuh keterbatasan, Mery memiliki harapan besar untuk masa depan Nadia. Ia berharap anaknya bisa melanjutkan pendidikan ke SMK, salah satunya Bogor Center School (Borcess).

“Saya ingin dia tetap sekolah, siapa tahu ke depannya ada jalan untuk kehidupan yang lebih baik,” harapnya.

Bagi Nadia, pendidikan di madrasah bukan hanya soal belajar di kelas, tetapi juga pelajaran hidup tentang toleransi dan penerimaan. Meski berada dalam lingkungan mayoritas, ia tetap merasa diterima apa adanya.

“Di sini, saya belajar banyak hal. Bukan cuma pelajaran sekolah, tapi juga bagaimana hidup saling menghormati,” ucap Nadia. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel