Sri Mulyani Nyalakan Alarm Bahaya Ekonomi Indonesia

Sri Mulyani
Ilustrasi/freepik.com

TIMETODAY.ID –  Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, menekankan bahwa proyeksi ekonomi global masih terlihat suram hingga tahun depan. Dia juga mengingatkan tentang tantangan besar dan berbagai risiko ekonomi global yang mungkin terjadi hingga 2025.

“Dunia masih dinamis dengan tantangan yang semakin meningkat,” kata Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI.

Terdapat enam tantangan besar yang akan dihadapi dunia, yaitu tingginya suku bunga, pengetatan perdagangan, volatilitas harga komoditas, ketegangan geopolitik, penuaan populasi global, dan dampak buruk perubahan iklim.

Advertisement

“Kita melihat geopolitik menyebabkan perubahan besar, menciptakan tatanan ekonomi baru, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Pembatasan perdagangan baru yang muncul pada 2021 melonjak. Pada 2023 ada 3000 pembatasan perdagangan diberlakukan dengan nilai yang signifikan,” tambah Sri Mulyani.

Tantangan ini sebagian besar bersifat ekonomi, seperti inflasi. Beberapa negara merespons lonjakan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan, yang kini berada di level tinggi dalam waktu yang lama karena inflasi belum reda.

“Implikasi dari kebijakan di negara-negara maju untuk merespons inflasi tinggi, likuiditas ketat, dan kenaikan suku bunga mengakibatkan tekanan capital outflow dan meningkatkan biaya utang atau cost of borrowing yang dialami semua negara, termasuk AS dan Eropa, serta dampaknya secara global,” jelasnya.

Di dalam negeri, ekonomi mulai mengalami tantangan serupa. Nilai tukar rupiah dan tingginya suku bunga saat ini membuat ekonomi Indonesia terancam. Jika kondisi ini terus berlanjut, berbagai dampak buruk seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan penurunan daya beli bisa menghantam Indonesia.

Data ekonomi saat ini cukup memprihatinkan bagi berbagai pihak. Harga barang terus naik di tengah daya beli masyarakat yang tidak optimal.

  1. Penguatan Dolar, Pelemahan Rupiah

Indeks dolar AS (DXY) cenderung naik belakangan ini. Pada pertengahan buln Maret tahun 2024, DXY berada di angka 103 dan pada 22 April 2024 menguat menjadi 106, naik 2,91%.

Kenaikan DXY ini memberikan tekanan bagi rupiah. Pada pertengahan Maret 2024, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp15.575/US$. Namun pada 19 April 2024, turun ke level Rp16.250/US$. Pada 1 April 2024, DXY berada di level 106,1, tertinggi hingga pertengahan 2024.

Mata uang Garuda terus tertekan dan telah turun hampir 2% sepanjang April. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan pelemahan rupiah sejak akhir Desember 2023 hingga saat ini mencapai 4,93%, lebih baik dibandingkan mata uang Filipina, Korea Selatan, dan Thailand yang sudah di atas 5%. Destry optimis rupiah akan kembali menguat.

Baca Juga :  Desa Berdjamur PLN UID Jakarta Raya Raih Penghargaan DKJ Award 2024

“Ke depan, Bank Indonesia memprediksi nilai tukar rupiah akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat,” ujar Destry.

  1. Penurunan Pertumbuhan Kredit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pada Maret 2024 kredit perbankan tumbuh double digit sebesar 12,40% year on year (yoy), dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 11,28% yoy menjadi Rp7.245 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Ototritas Jasa Keuangan, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit tertinggi pada sektor investasi sebesar 14,83% yoy. Sedangkan, kredit modal kerja dan konsumsi masing-masing tumbuh 12,30% dan 10,22%.

Namun, sebelumnya pertumbuhan kredit mencapai 11,28% yoy pada Februari 2024 menjadi Rp7.095 triliun, lebih rendah dibandingkan Januari yang tumbuh 11,83% yoy.

Mayoritas pembiayaan untuk Rumah Tangga (RT) pada Februari 2024 mengalami penurunan untuk Kredit Multi Guna (KMG) dari 39,3% menjadi 37,7%.

Pembiayaan Kredit Kendaraan Bermotor atau KKB juga lebih rendah menjadi 22,6%. Kredit peralatan RT menurun menjadi 12% dari sebelumnya 12,9%.

  1. Penurunan Penjualan Mobil

Penjualan mobil tercatat mengalami penurunan pada tiga bulan pertama 2024. Berdasarkan data penjualan mobil PT Astra International Tbk, penjualan wholesales (pabrik ke dealer) terkoreksi 23,8% year on year (YoY) menjadi 215.069 unit pada Januari-Maret 2024, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 282.601 unit.

Selektivitas kredit dalam proses leasing mempengaruhi produsen mobil, salah satunya Toyota, dan berdampak pada penjualan yang menurun.

“Penurunan ekonomi, salah satunya dari kredit. Kredit sekarang lebih selektif, informasi dari teman-teman kredit, NPL ada peningkatan. Ini berdampak pada pasar,” ujar Direktur Marketing Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandy.

  1. Tingginya Suku Bunga Acuan

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 April 2024 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 7,00%.

Tingginya suku bunga ini berdampak pada kredit yang semakin mahal. Jika bunga kredit terus naik, masyarakat enggan mengambil kredit baik perorangan maupun perusahaan untuk ekspansi bisnis, yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi.

  1. Lonjakan Harga Pangan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi atau penurunan harga pada Mei 2024 sebesar 0,03% month to month (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,84% yoy. Inflasi tahun kalender tercatat sebesar 1,16%.

Meskipun harga mulai melandai, pemerintah tetap waspada terhadap perkembangan harga pangan guna menjaga akses pangan pokok masyarakat.

Baca Juga :  Yess! Menkeu Sri Mulyani Umumkan THR PNS, TNI dan Polri 2024 Cair 100 Persen

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengatakan pemerintah terus konsisten mengantisipasi risiko gejolak harga, terutama karena tantangan cuaca ekstrem.

Berbagai kebijakan terus dilaksanakan, antara lain intervensi harga, stabilisasi pasokan, dan peningkatan kelancaran distribusi guna mendukung target inflasi volatile food di bawah 5% serta terkendalinya inflasi hingga di tingkat daerah.

Pada 10 April 2024, harga beras premium masih di Rp16.360 per kg dan beras medium di Rp14.120 per kg. Harga ini adalah rata-rata harian nasional di tingkat pedagang eceran.

Harga beras terus naik sejak Agustus 2022. Pada saat itu, harga rata-rata bulanan nasional untuk beras premium adalah Rp12.310 per kg dan beras medium di Rp10.700 per kg.

  1. Penurunan Pengeluaran Konsumsi

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Mei 2024 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun menjadi 125,2, lebih rendah dari 127,7 pada April 2024. Meski turun, IKK tetap optimis (>100).

BI menyatakan keyakinan konsumen pada Mei 2024 didorong oleh keyakinan terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ekonomi ke depan yang tetap optimis.

“Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Mei 2024 masing-masing tercatat sebesar 115,4 dan 135,0,” kata Erwin Haryono, Asisten Gubernur – Kepala Departemen Komunikasi BI.

Porsi pengeluaran responden untuk konsumsi terus menurun. Pembelian barang tahan lama turun dari 116,4 pada Maret menjadi 112,7 pada Mei 2024.

Penurunan terjadi di semua kelompok pengeluaran. Responden dengan pengeluaran Rp3,1-4 juta mengalami penurunan terdalam, menjadi 112 dari 122,1 pada bulan sebelumnya.

Pada Mei 2024, proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi menurun dari 73,6% menjadi 73%.

  1. Kenaikan Rasio NPF

Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) industri multifinance naik tahun ini, diikuti melambatnya pertumbuhan pembiayaan.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2024 mencatat rasio NPF gross sebesar 2,82%, naik 35 basis poin (bps) secara tahunan. Dibandingkan Desember 2023, rasio NPF naik 38 bps.

NPF net per April 2024 naik 20 bps menjadi 0,89% dan naik 25 bps dibandingkan Desember 2023.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menilai NPF multifinance naik karena daya beli masyarakat tertekan harga kebutuhan pokok yang melonjak sejak akhir. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

=========================================================