Ubah Bambu Jadi Sepeda, Segini Harganya

TIMETODAY.ID, BOGOR- Berawal dari hobi bersepeda, Deny Hestiningrum warga Gunung Putri, Kabupaten Bogor meluangkan ide kreativitasnya untuk mengolah bambu menjadi sebuah sepeda.

Di bengkel Arana Bike yang berlokasi di Jalan Raya Bojong Nangka, Desa Bojong Nangka, Kecamatan Gujungputri, Kabupaten Bogor tiga jenis sepeda berbahan bambu Gombong itu dirakit.

Pemilik Arana Bike Deny Hestiningrum menjelaskan, Arana Bike berdiri sejak tahun 2020 silam dan baru dilaunching pada pertengahan bulan tahun 2021.

Advertisement

“Sebelumnya kami sudah membuat produknya dari tahun 2020 tetapi masih ada penelitian dan ujicoba trail and eror,” ujar Deny Hestiningrum.

Pada Tahun 2021 itu Arana Bike mendapatkan izin laboratorium untuk kekuatan dan uji lelah berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Setelah itu barulah dilaunching produk Arana Bike.

Baca Juga :  KIM Diera Digitalisasi Ciptakan Masyarakat Melek Informasi

Arana Bike sudah membuat tiga tipe sepeda, yaitu Komodo Gravel atau Touring, Lereng Bambu Minilevo dan Belo Balance Bike.

Untuk produk terbarunya di tahun 2022 ini, Arana Bike memproduksi sepeda Belo Balance Bike untuk anak usia 3 hingga 5 tahun.

“Jadi produk baru kami balance bike di khususkan untuk anak- anak yang masih melatih keseimbangan,”tambahnya.

Desain rangka sepeda buatan Arana ini berbeda dari produk sepeda pada umumnya, di arana bike tergolong unik yaitu berbentuk hexagonal atau segi enam.

“Desain rangkanya hexagonal untuk dapat geometrinya, kekuatannya, dan kenyamanannya untuk bisa meredam getaran,”lanjutnya.

Untuk proses pembuatan kerangka bambu siap dirakit menjadi full bike tergolong tidak mudak dan bisa memakan waktu yang cukup lama sekitar dua minggu dihitung dari kesiapan bahan baku siap dirakit.

Baca Juga :  Pastikan Stok Beras Aman, Bima Arya Sidak Pasar

” Sebelum di rakit ada proses lagi teritmen proses pengawetan bambu selama dua minggu, setelah bambu diawetkan dan dilaminasi barulah sampai proses finishing,” kata Deny

Sepeda bambu tersebut dijual dengan harga Rp1 juta hingga Rp26 juta per sepeda sesuai dengan pesanan serta tingkat kerumitan dan dipasarkan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Pasar saat ini masih lokal dan pemasarannya melalui komunitas serta media sosial. Deny Hestiningrum berharap sepeda bambu ini bisa untuk diekspor.

“Harapannya kedepan rangka sepeda bambu ini menjadi salah satu potensi untuk bisa di ekspor,” pungkasnya. (fdl)

=========================================================