
TIMETODAY.ID, BOGOR – Napak Tilas Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang digelar Pemerintah Kabupaten Bogor bersama Pengurus Cabang Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Bogor menelusuri kembali jejak pemerintahan darurat Bupati pertama Bogor, Raden Ipik Gandamana, yang berlangsung pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948.
Kegiatan dimulai dari Pendopo Kawedanaan Jasinga, salah satu titik penting dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Bogor pada masa awal kemerdekaan. Dari lokasi itu, rombongan bergerak menyusuri rute yang dahulu dilalui Ipik Gandamana saat mempertahankan jalannya roda pemerintahan di tengah situasi genting.
Di sepanjang perjalanan, Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi atau Jaro Ade menyebut napak tilas menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah daerahnya.
“Di perjalanan napak tilas ini, banyak masyarakat yang bercerita bagaimana masih ada peninggalan Bapak Ipik Gandamanah dalam perjuangannya memimpin Bogor,” ujar Jaro Ade, Selasa (2/6/2026).
Dari Jasinga, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor melintasi sejumlah wilayah di Kecamatan Sukajaya, mulai dari Kampung Ciparengpeng, Kampung Cijairin, Kampung Ciear, hingga Kampung Jamang di Desa Cisarua.
Di Kampung Jamang, rombongan berhenti sejenak di salah satu titik yang memiliki nilai historis karena pernah menjadi lokasi persinggahan Ipik Gandamana dalam menjalankan tugas pemerintahan di masa perjuangan.
Perjalanan kemudian berlanjut hingga Pendopo Malasari, yang pernah menjadi pusat pemerintahan darurat pertama Kabupaten Bogor. Bangunan yang semula merupakan rumah Kepala Desa Malasari pertama, Ining, itu kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan juga membagikan sekitar 400 paket sembako kepada warga yang ditemui di sepanjang rute perjalanan sebagai bagian dari rangkaian HJB ke-544.
Jaro Ade mengatakan hasil napak tilas tersebut akan disampaikan kepada Bupati Bogor Rudy Susmanto, termasuk usulan untuk merekonstruksi rumah Ipik Gandamana dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya sebagai rumah panggung.
“Dan alhamdulillah kita bisa sampai ke pusat pemerintahan zaman Bapak Ipik Gandamanah, bersama IMI di dalamnya anggota DPRD, kepala desa dan lainnya. Ini mengingatkan perjalanan sejarah di momen HJB,” kata dia.
Sementara itu, Ketua Pengcab IMI Kabupaten Bogor, Aan Triana Al Muharom, menegaskan bahwa napak tilas ini menjadi upaya menjaga ingatan sejarah agar tidak terputus dari generasi ke generasi.
“Napak tilas ini kami lakukan agar masyarakat Kabupaten Bogor tidak melupakan sejarah daerahnya sendiri,” tuntasnya.
Editor : B. Supriyadi
Sumber : Bogortoday.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































