
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Berbaring tengkurap di atas tempat tidur hangat dengan beberapa cangkir menempel di punggung menjadi gambaran umum terapi bekam. Pengobatan tradisional ini telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan hingga kini masih banyak diminati, meski dunia medis terus berkembang pesat.
Popularitas bekam membuat berbagai penelitian dilakukan untuk memahami manfaat dan risiko nya. Meski dipercaya membantu meredakan berbagai keluhan, terapi ini tetap perlu dilakukan dengan pemahaman yang tepat. Berikut penjelasan seputar prosedur bekam, potensi manfaat, hingga efek samping yang perlu diperhatikan.
Bagaimana prosedur bekam dilakukan?
Bekam merupakan metode pengobatan tradisional dengan menggunakan cangkir khusus untuk menciptakan efek hisapan pada kulit. Terapi ini umumnya dilakukan pada area punggung, bahu, atau leher.
Prosedurnya diawali dengan pembersihan area tubuh yang akan dibekam. Setelah itu, cangkir dipasang dengan cara dipanaskan (bekam api) atau menggunakan alat penyedot udara untuk menciptakan vakum. Berdasarkan tekniknya, bekam terbagi menjadi dua jenis, yakni bekam kering yang hanya menggunakan hisapan, serta bekam basah yang melibatkan sayatan tipis untuk mengeluarkan darah.
Cangkir biasanya dibiarkan menempel selama 5 hingga 15 menit sebelum dilepas. Jika dilakukan bekam basah, area kulit akan dibersihkan dan dirawat untuk mencegah infeksi.
Potensi manfaat bekam
Bukti ilmiah mengenai efektivitas bekam masih terbatas. Namun, beberapa penelitian menunjukkan terapi ini berpotensi membantu mengurangi nyeri, terutama pada leher dan punggung bawah, dengan meningkatkan aliran darah ke jaringan otot.
Selain itu, bekam juga dipercaya membantu mengurangi kekakuan fasia, yakni jaringan ikat yang menopang struktur tubuh. Dengan merangsang aliran darah, bekam dapat meningkatkan fleksibilitas dan rentang gerak. Beberapa studi juga menunjukkan manfaat bekam dalam meredakan sakit kepala tegang dan migrain, meski masih memerlukan penelitian lanjutan.
Efek samping yang mungkin terjadi
Perubahan warna kulit berupa memar merupakan efek samping paling umum setelah bekam dan biasanya tidak berbahaya. Bekas ini bisa bertahan beberapa hari hingga minggu, tergantung kondisi tubuh dan teknik yang digunakan.
Namun, ada risiko lain yang perlu diwaspadai, seperti iritasi kulit, infeksi akibat alat yang tidak steril, hingga bekas luka jika hisapan terlalu kuat atau cangkir dibiarkan terlalu lama. Beberapa orang juga bisa merasakan nyeri, pusing, atau mual selama atau setelah terapi.
Tidak semua orang cocok menjalani bekam
Meski bermanfaat bagi sebagian orang, bekam tidak dianjurkan untuk semua kondisi. Terapi ini sebaiknya dihindari pada area tubuh yang memiliki luka, infeksi, varises, patah tulang, atau trombosis vena dalam.
Selain itu, bekam juga tidak disarankan bagi ibu hamil, penderita gangguan pembekuan darah, anemia berat, kanker, gagal organ, atau mereka yang memiliki alat medis implan. Bagi penderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau kondisi medis tertentu, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan sebelum mencoba terapi bekam. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



































