TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pemerintah Prancis secara terbuka mengungkap alasan penolakannya terhadap undangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza. Dewan tersebut dibentuk Trump dan piagamnya ditandatangani oleh 19 negara bersama Amerika Serikat dan Kosovo di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menegaskan, negaranya memandang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai satu-satunya wadah utama dalam upaya menjaga dan menciptakan perdamaian dunia. Karena itu, pembentukan organisasi alternatif dinilai bukan langkah yang tepat untuk menyelesaikan konflik, termasuk krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.
“Kami yakin Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah dewan perdamaian dan bahwa membentuk (organisasi) alternatif bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik di Gaza,” kata Lescure, seperti dikutip dari televisi RTL.
Penolakan Prancis ini terjadi di tengah tekanan langsung dari Trump. Pada 20 Januari lalu, Presiden AS tersebut mengancam akan mengenakan tarif impor sebesar 200 persen terhadap produk wine asal Prancis jika Paris menolak bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza.
Ancaman tersebut langsung menuai reaksi keras dari Istana Kepresidenan Prancis. Pemerintah menilai langkah Trump tidak dapat diterima dan berpotensi merusak hubungan diplomatik kedua negara. Menteri Pertanian Prancis Annie Genevard bahkan menyebut ancaman tarif itu sebagai bentuk “pemerasan.”
Trump sebelumnya, pada 16 Januari 2026, mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza dengan melibatkan sejumlah tokoh berpengaruh dunia.
Dewan itu mencakup Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Presiden Bank Dunia Ajay Banga, serta Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Robert Gabriel.
Selain anggota inti tersebut, Trump juga mengundang sekitar 60 pemimpin dunia untuk bergabung, termasuk dari negara-negara yang selama ini memiliki hubungan tegang dengan Amerika Serikat, seperti Rusia, Belarus, dan China.
Meski demikian, sikap Prancis menunjukkan bahwa tidak semua sekutu AS sejalan dengan pendekatan Trump dalam menangani konflik global, terutama ketika peran PBB dianggap terpinggirkan dalam upaya perdamaian internasional.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































