Trump Tolak Hadiri G7 Paris, Klaim Macron Segera Habis Masa Jabatan

Trump
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Foto: Yoan Valat/Pool via Reuters

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menimbulkan kontroversi dengan pernyataannya mengenai masa depan politik Presiden Prancis Emmanuel Macron. Trump menyebut bahwa Macron “tidak akan memimpin lama,” sebagai alasan utama dirinya menolak menghadiri pertemuan darurat G7 di Paris pekan ini.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat bersiap bertolak ke Davos, Swiss, untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF). Menurut Trump, tidak ada urgensi bagi dirinya untuk hadir di Paris karena masa kepemimpinan Macron diprediksi segera berakhir.

“Tidak, saya tidak akan melakukan itu (ke Paris). Karena, Anda tahu, Emmanuel tidak akan memimpin lama. Tidak ada masa jabatan yang panjang di sana,” kata Trump, dikutip dari Anadolu, Rabu (21/1/2026).

Advertisement
Baca Juga :  Trump: Tarif Impor AS Minimal 10%, Negara dengan Surplus Perdagangan Bisa Dikenai Lebih Tinggi

Meski meragukan kelanjutan karier politik Macron, Trump menegaskan hubungan pribadi mereka tetap baik.

“Dia teman saya. Dia orang yang baik. Saya suka Macron, tapi dia tidak akan memimpin lebih lama lagi,” ujarnya.

Pernyataan Trump muncul di tengah ketegangan diplomatik yang meningkat antara kedua negara. Sebelumnya, Macron sempat mengirim surat pribadi kepada Trump melalui akun media sosial Truth Social, mengundang mantan presiden AS itu untuk menghadiri pertemuan informal dengan sejumlah pemimpin dunia di Paris, setelah agenda WEF di Davos.

Dalam surat itu, Macron menyebut pertemuan dapat melibatkan pembahasan isu Ukraina, Denmark, Suriah, hingga Rusia, serta mengusulkan jamuan makan malam sebelum Trump kembali ke Amerika Serikat. Namun, undangan tersebut justru ditanggapi dingin oleh Trump.

Baca Juga :  Trump Hidupkan Kembali Program Uji Coba Nuklir AS, Rusia Beri Respons

Selain itu, Macron mempertanyakan niat Trump merebut Greenland, yang menjadi isu sensitif dan memicu ketegangan dengan sejumlah negara Eropa. Trump juga menyatakan bahwa ia tidak memerlukan dukungan Macron, mengingat jangka waktu kepemimpinannya yang dianggap singkat.

Ketegangan antara keduanya semakin meningkat setelah Macron menolak undangan Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, lembaga yang bertugas memulihkan kondisi di Jalur Gaza pasca-perang dua tahun Israel-Hamas. Alasan penolakan Macron adalah kekhawatiran bahwa lembaga itu akan beririsan dengan tugas PBB.

Sebagai respons, Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif masuk 200 persen untuk produk minuman beralkohol dari Prancis.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel