Harga Telur di Bogor Melonjak, Ancaman Inflasi Pangan Mengintai

harga telur
Najid (24), pedagang telur di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, menata telur ayam dan telur puyuh di lapaknya, Jumat (10/10/2025). Harga telur ayam negeri melonjak menjadi Rp30.000 per kilogram dari sebelumnya Rp27.000, sementara telur puyuh masih stabil di angka Rp34.000 per kilogram. Foto : Amelia Azizah/timetoday.id

TIMETODAY.ID, BOGOR – Lonjakan harga telur ayam negeri kembali memukul daya beli masyarakat di Kabupaten Bogor. Di Pasar Cibinong, harga komoditas pangan strategis ini menembus angka Rp30.000 per kilogram pada pekan ini, naik Rp3.000 atau sekitar 11 persen dibandingkan minggu sebelumnya yang masih bertengger di level Rp27.000 per kilogram.

Kenaikan harga yang terjadi sejak akhir September ini memaksa pedagang pasar harus memutar otak agar tidak kehilangan pembeli. Najid (24), salah satu pedagang telur di Pasar Cibinong, mengaku dilema menghadapi situasi ini. Di satu sisi, ia harus mengikuti harga dari pemasok, namun di sisi lain, ia khawatir pembeli akan beralih ke pedagang lain jika menaikkan harga terlalu tinggi.

“Sampe sekarang lagi naik-naiknya, sekarang lagi di Rp30.000 per kilogram. Harga sebelumnya di Rp27.000 udah minggu lalu,” ujar Najid, Jumat (10/10/2025) siang.

Advertisement

Pemuda asal Cibinong ini menuturkan, kenaikan harga telur ayam negeri berkaitan erat dengan melambungnya harga ayam potong dalam sebulan terakhir. Ketika harga ayam naik, peternak cenderung menjual ayam petelur mereka untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, sehingga produksi telur pun menyusut.

“Iya kan sekarang ayamnya juga lagi naik, jadi betul ngaruh ke telurnya juga,” terang Najid.

Meski tak bisa memastikan faktor penyebab utama, Najid menduga ada gangguan di beberapa titik rantai pasokan. Mulai dari kenaikan harga pakan ternak, biaya transportasi, hingga ongkos tenaga kerja di tingkat distributor yang meningkat.

Baca Juga :  Jelang Ramadan, Harga Cabai Tembus Rp 120 Ribu di Pasar Cibinong

Semua komponen ini, menurut pedagang yang sudah berjualan selama empat tahun itu, bermuara pada harga jual akhir di pasar tradisional.

“Kurang tau faktornya ya, cuma kita ya ikut dari kandang. Bisa jadi dari yang pengambilnya, yang kuli-kuli yang datangnya, kan bisa juga dari pakan faktornya,” ujar Najid.

Pasokan telur yang dijual di Pasar Cibinong sebagian besar bersumber dari Blitar, Jawa Timur, salah satu sentra peternakan ayam petelur terbesar di Indonesia. Meski jalur distribusi sejauh ini masih berjalan, pedagang mengaku harus lebih cermat dalam mengelola stok mengingat fluktuasi harga yang tidak menentu.

“Alhamdulillah masih stabil, biarpun harga naik kita masih stabil lah. Normal 78 persen,” kata Najid merujuk pada tingkat ketersediaan pasokan di lapaknya.

Kendati pasokan relatif terjaga, keluhan dari pembeli tak bisa dihindari. Ibu-ibu rumah tangga yang menjadi pelanggan utama pasar tradisional mulai mengurangi pembelian telur atau mencari alternatif protein hewani lain yang lebih terjangkau. Situasi ini membuat para pedagang seperti Najid berada dalam posisi sulit.

“Keluhan itu pasti, karena kan yang jualnya juga bingung harganya pada naik. Kalo yang jualannya pada naikin harga, kan kalo makanan ga naikin harga, kalo naikin harga nanti pada lari orang,” jelas Najid.

Baca Juga :  Harga Emas Antam 3 Mei 2026 Stabil di Rp2,79 Juta per Gram Usai Turun Tipis

Menariknya, kenaikan harga tidak terjadi pada seluruh jenis telur maupun komoditas unggas lainnya di Pasar Cibinong. Telur bebek, misalnya, justru mengalami sedikit penurunan dari Rp3.000 menjadi Rp2.500 per butir. Sementara telur puyuh bertahan stabil di level Rp34.000 per kilogram, begitu pula telur omega yang tidak mengalami perubahan harga.

“Iya ayam aja yang naik, yang lainnya stabil malah ada yang turun. Telor bebek harganya dua setengah satunya, dia jualannya satuan biasanya tiga ribu,” ucap Najid.

“Telur puyuh Rp34 ribu per kilo stabil, omega stabil, cuma ayam negeri aja yang naik,” tambahnya menegaskan bahwa lonjakan harga hanya terjadi pada telur ayam negeri.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa masalah terletak pada rantai pasok ayam petelur negeri secara spesifik, bukan pada sektor perunggasan secara keseluruhan. Telur bebek dan puyuh yang memiliki struktur pasar berbeda tidak terdampak fluktuasi yang sama.

Para pedagang di Pasar Cibinong berharap pemerintah dapat segera mengintervensi untuk menstabilkan harga telur ayam. Sebagai salah satu sumber protein hewani paling terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, lonjakan harga telur berpotensi mengganggu ketahanan pangan rumah tangga.

“Kami berharap harga bisa kembali normal seperti bulan lalu. Kalau terus begini, yang rugi bukan cuma pembeli, tapi kami pedagang juga kehilangan omzet karena orang jadi mengurangi beli telur,” keluh Najid menutup wawancara.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : Amelia Azizah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel