TIMETODAY.ID, CARACAS – Suasana Sabtu (20/9/2025) di kawasan Petare, Caracas, terasa berbeda. Jalan utama yang biasanya dipenuhi lalu lintas warga, ditutup sehari penuh. Bukan untuk festival atau protes politik, melainkan untuk sebuah latihan militer singkat yang melibatkan warga sipil.
Langkah ini diambil pemerintah Venezuela sebagai respons terhadap pengerahan kapal perang Amerika Serikat (AS) di Karibia, yang sudah berlangsung hampir sebulan. Armada itu diperkuat pesawat tempur F-35 yang ditempatkan di Puerto Rico dalam misi yang disebut operasi antinarkoba.
Di balik kegiatan tersebut, ada nuansa genting. Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, menuding langkah AS sebagai “perang yang tidak dideklarasikan” di Karibia.
Ia juga menegaskan, Washington tengah berusaha mendorong perubahan rezim sekaligus “mencuri minyak dan sumber daya lainnya.”
Latihan militer di Petare menampilkan wajah rakyat biasa yang mencoba mempelajari teknik pertahanan. Luzbi Monterola, seorang pekerja kantoran berusia 38 tahun, datang dengan tekad penuh.
“Saya di sini untuk mempelajari apa yang perlu saya pelajari untuk membela apa yang benar-benar penting bagi saya: negara saya, tanah air saya, bangsa saya, Venezuela,” ujarnya. “Saya tidak takut pada apa pun dan siapa pun.”
Di lapangan, tentara melatih relawan dalam kelompok berisi 30 orang. Mereka belajar dasar penggunaan senjata, cara memakai masker, pertolongan pertama, hingga doktrin yang disebut ‘pemikiran ideologis’.
Anak muda pun ikut ambil bagian. John Noriega, 16 tahun, hadir bersama orang tuanya.
“Semua ini tentang minyak, emas, berlian – sumber daya kami,” katanya.
“Kami akan memperjuangkan apa yang menjadi milik kami.”
Namun, skala latihan terbilang terbatas. Parade kendaraan lapis baja di ibu kota hanya melibatkan sekitar 25 unit, sementara jumlah relawan yang hadir lebih sedikit dibandingkan panggilan massal pekan lalu. Latihan serupa juga digelar di San Cristobal dan Barinas, meski dengan partisipasi rendah.
Di pesisir, kapal-kapal nelayan berlayar berdampingan dengan armada angkatan laut, memperlihatkan citra “persatuan rakyat dan militer” yang ditayangkan televisi pemerintah.
“Hari ini adalah tonggak sejarah yang kita tandai dalam revolusi militer yang kita semua tulis, rakyat dan Angkatan Bersenjata bersama-sama. Ini adalah revolusi militer sejati!” seru Menhan Lopez.
Sementara itu, tekanan dari Washington kian terasa. Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama melontarkan ancaman keras.
“Kami ingin Venezuela segera menerima semua tahanan, dan orang-orang dari rumah sakit jiwa… yang dipaksa masuk ke Amerika Serikat,” tulisnya di Truth Social.
“Usir mereka dari negara kita, sekarang juga, atau harga yang kalian bayar akan tak terkira!”
Hingga Jumat (19/9), sebuah pesawat AS telah memulangkan 185 warga Venezuela ke Caracas. Total sudah lebih dari 13.000 orang dipulangkan sejak Trump kembali menjabat pada Januari lalu.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com, AFP
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































