TIMETODAY.ID, JAKARTA — Langit musim panas Kanada yang biasanya ramai dengan pesawat Air Canada kini mendadak lengang. Jumat (15/8/2025), maskapai terbesar di negeri itu mengumumkan pembatalan sebagian besar dari sekitar 700 penerbangan.
Imbasnya, tak kurang dari 100 ribu penumpang terlantar di bandara-bandara, hanya sehari sebelum rencana mogok nasional para pramugari.
Bagi banyak pelancong, hari ini yang seharusnya dipenuhi rencana liburan berubah menjadi rangkaian antrean panjang, koper berserakan, dan layar informasi bandara yang dipenuhi kata “CANCELLED.”
Kepala Operasional Air Canada, Mark Nasr, menegaskan situasinya tidak sesederhana menekan tombol “on” atau “off” pada mesin.
“Ini bukan jenis sistem yang bisa kami mulai atau hentikan hanya dengan menekan tombol,” ujar Nasr.
Menurut laporan India Today, mogok ini berakar pada kebuntuan negosiasi kontrak antara Air Canada dan serikat pekerja pramugari yang tergabung dalam CUPE (Serikat Pekerja Publik Kanada).
Perselisihan terutama berkutat pada upah dan kompensasi untuk jam kerja di luar waktu pesawat mengudara pekerjaan seperti menyiapkan kabin, memandu boarding, dan melayani penumpang sebelum lepas landas.
“Tugas-tugas lain yang tidak dibayar bisa mencapai hingga 35 jam per bulan,” kata juru bicara CUPE, sambil menuding bahwa sebagian besar maskapai tradisional memang hanya membayar pramugari saat pesawat berada di udara.
Air Canada mengklaim telah menawarkan kompensasi sebagian untuk waktu kerja di luar penerbangan, meski hanya setengah dari tarif per jam reguler. Selain itu, mereka juga mengajukan paket kenaikan total kompensasi sebesar 38% selama empat tahun dengan 25% kenaikan di tahun pertama. Namun, CUPE tetap bergeming.
“Kami yakin perusahaan berharap pemerintah federal turun tangan dan menyelamatkan mereka,” sindir pihak serikat.
Situasi semakin rumit karena mogok direncanakan berlangsung di puncak musim liburan. Tekanan pun mengarah ke pemerintah federal yang dipimpin Perdana Menteri Mark Carney. Air Canada telah secara terbuka meminta pemerintah menggunakan proses arbitrase yang mengikat.
Menteri Tenaga Kerja Kanada, Patty Hajdu, mencoba menjadi penengah. Ia menyerukan kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan dan berjanji merespons permintaan arbitrase Air Canada paling lambat Jumat siang—meski langkah ini mendapat penolakan dari CUPE.
Hingga Kamis malam, puluhan penerbangan telah dibatalkan. Jumlah itu melonjak menjadi sekitar 500 pembatalan pada Jumat malam. Sementara itu, United Airlines, mitra Air Canada dari Amerika Serikat, mulai melonggarkan kebijakan perjalanan bagi penumpang terdampak untuk memudahkan mereka menyusun ulang rencana.
Bagi ribuan penumpang yang terjebak di terminal, musim panas 2025 mungkin akan diingat bukan karena pemandangan indah atau destinasi yang memukau, melainkan karena hari panjang di bandara menunggu kepastian yang tak kunjung datang.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel






































