TIMETODAY.ID — Siapa sangka di balik warna-warninya yang menggemaskan, luk chup, camilan manis khas Thailand yang sedang viral di media sosial, ternyata punya akar sejarah panjang hingga lintas benua.
Belakangan, di berbagai linimasa, foto-foto luk chup bertebaran. Miniatur buah-buahan berlapis permukaan mengilap ini sering bikin orang gemas, bahkan terlalu sayang untuk langsung dimakan.
Banyak pula kreator kuliner yang mulai membuka pesanan luk chup buatan rumahan karena permintaan meningkat tajam.
Namun di balik tampilannya yang lucu, luk chup sejatinya bukanlah kudapan asli Thailand. Sejarahnya dimulai jauh di Eropa, lalu bertransformasi di dapur kerajaan Ayutthaya ratusan tahun lalu.
Dari Massapes Portugis ke Kerajaan Thailand
Mengutip Thailand Foundation (23/7), resep dasar luk chup awalnya datang bersama pedagang dan misionaris Portugis pada masa Kerajaan Ayutthaya (1350–1767).
Di negeri asalnya, camilan serupa dikenal dengan nama Massapes, terbuat dari tepung almond dan gula—bahan premium di zamannya.
Saat resep ini dibawa ke Thailand, almond bukanlah bahan yang mudah didapat. Di sinilah kreativitas muncul: tepung almond diganti kacang hijau yang dihaluskan, menghasilkan tekstur lembut dan rasa manis alami.
Sentuhan Chef Kerajaan
Kudapan ini kemudian masuk dapur kerajaan King Narai the Great (1656–1688). Sosok penting di baliknya adalah Maria Guyomar de Pina, yang dikenal juga dengan nama Thailand Thao Thong Kip Ma.
Ia dipercaya sebagai orang pertama yang mempopulerkan luk chup di istana dengan inovasi bentuk buah mini nan mengilap.
Dari istana, luk chup perlahan menyebar ke masyarakat. Rakyat membuat versi lebih sederhana agar bisa dinikmati di luar tembok kerajaan.
Bukan Sekadar Manis, Penuh Makna
Luk chup tak hanya soal rasa dan rupa. Dalam kebudayaan Thailand, camilan ini juga simbol keterbukaan budaya. Lewat luk chup, terlihat bagaimana masyarakat Thailand mampu beradaptasi dengan resep asing dan menjadikannya bagian dari tradisi mereka.
Selain itu, membuat luk chup membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Bentuk miniatur buah, warna-warna cerah, hingga lapisan jelly bening di permukaan, semuanya menuntut kesabaran dan ketelitian pembuatnya.
Hadiah Cantik Ramah Semua Orang
Tak heran, luk chup kerap hadir dalam berbagai acara penting, mulai dari pernikahan, festival, hingga hantaran tamu.
Kudapan mungil ini dianggap cocok sebagai bingkisan karena tampilannya indah, rasanya manis, dan ramah untuk banyak diet—vegan, bebas gluten, hingga diet rendah gula pun bisa menyesuaikan.
Hari ini, tren luk chup bukan hanya membangkitkan nostalgia sejarah, tapi juga membuka peluang bisnis manis di era viral medsos. Jadi, kalau suatu hari mendapat hadiah sekotak luk chup, jangan cuma dijadikan hiasan—cicipi, dan rasakan jejak sejarah Eropa di gigitan manis ala Thailand.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































