TIMETODAY.ID — Cacar api, atau yang dikenal juga dengan istilah herpes zoster, adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster, virus yang sama dengan penyebab cacar air. Penyakit ini bisa muncul kembali setelah bertahun-tahun virus tersebut “tertidur” dalam tubuh, terutama saat sistem kekebalan menurun. Meskipun tidak selalu mengancam nyawa, cacar api bisa menimbulkan rasa nyeri hebat dan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Gejala Khas Cacar Api
Gejala awal cacar api biasanya diawali dengan rasa nyeri tajam, panas seperti terbakar, kesemutan, atau gatal pada area kulit tertentu. Rasa nyeri ini sering muncul sebelum ruam terlihat dan biasanya hanya terjadi pada satu sisi tubuh, seperti dada, punggung, pinggang, leher, atau wajah.
Ruam yang muncul berupa bintil-bintil merah yang berkumpul dan berkembang menjadi lepuh berisi cairan dalam 3-5 hari setelah nyeri muncul. Lepuhan ini terasa sangat nyeri dan dapat pecah, kemudian mengering membentuk kerak dalam waktu 7-10 hari. Seluruh proses ruam biasanya berlangsung selama 2-4 minggu.
Selain ruam dan nyeri, penderita juga dapat mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, menggigil, kelelahan, serta sakit perut. Pada beberapa kasus, nyeri bisa bertahan bahkan setelah ruam hilang, kondisi ini dikenal sebagai neuralgia pasca-herpes yang bisa berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
Penyebab dan Faktor Risiko
Cacar api terjadi akibat reaktivasi virus varicella-zoster yang sebelumnya menginfeksi dan menyebabkan cacar air. Setelah infeksi pertama sembuh, virus tetap berada dalam tubuh secara laten di saraf.
Virus ini bisa aktif kembali ketika kekebalan tubuh menurun, misalnya karena usia lanjut (di atas 45 tahun), stres berat, penyakit kronis seperti diabetes, atau penggunaan obat yang menekan sistem imun.
Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Walaupun biasanya sembuh dengan sendirinya, cacar api dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama jika tidak ditangani dengan baik. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi antara lain:
-
Neuralgia pasca-herpes, yaitu nyeri kronis yang berlangsung lama setelah ruam sembuh.
-
Kerusakan saraf yang menyebabkan kelumpuhan pada satu sisi wajah, dikenal sebagai sindrom Ramsay Hunt, yang juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan.
-
Radang otak (ensefalitis) yang dapat menimbulkan gejala berat seperti kebingungan, kejang, dan penurunan kesadaran.
-
Risiko kebutaan jika ruam mengenai area sekitar mata.
Pengobatan dan Pencegahan
Pengobatan cacar api bertujuan mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan ruam, dan mencegah komplikasi. Dokter biasanya meresepkan obat antivirus seperti asiklovir, valasiklovir, atau famsiklovir yang paling efektif jika diberikan dalam 72 jam sejak ruam muncul. Selain itu, obat pereda nyeri dan antiinflamasi juga diberikan untuk mengurangi ketidaknyamanan.
Pencegahan terbaik adalah dengan vaksinasi herpes zoster, terutama bagi orang dewasa di atas 50 tahun atau mereka yang memiliki risiko menurunnya kekebalan tubuh. Vaksin ini dapat mengurangi kemungkinan terkena cacar api dan mengurangi keparahan gejala jika terinfeksi.
Kesimpulan
Cacar api adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja yang pernah mengalami cacar air sebelumnya, terutama saat sistem imun melemah. Mengenali gejala khas seperti nyeri tajam diikuti ruam lepuh pada satu sisi tubuh sangat penting agar pengobatan dapat segera dilakukan.
Jangan remehkan penyakit ini karena komplikasinya bisa serius. Konsultasikan dengan dokter jika mengalami gejala-gejala tersebut dan diskusikan tentang vaksinasi sebagai langkah pencegahan.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































