TIMETODAY.ID — Di tengah kemudahan hidup serba digital, ancaman di balik layar semakin mengintai. Kuartal pertama 2025 mencatat lonjakan drastis serangan siber ke pengguna smartphone Android. Data dari perusahaan keamanan siber Kaspersky menunjukkan, lebih dari 180 ribu malware baru ditemukan, naik 27 persen dibandingkan akhir 2024. Ancaman ini bukan isapan jempol—lebih dari 12 juta smartphone berhasil diblokir dari serangan, naik 36 persen dari sebelumnya.
Indonesia termasuk negara yang menjadi sasaran. Di tengah antusiasme masyarakat terhadap aplikasi serba praktis, celah keamanan terbuka lebar.
Malware Menyamar Jadi Aplikasi Sah
Bayangkan Anda sedang mengunduh aplikasi untuk menonton film gratis. Tak ada yang mencurigakan di tampilan awalnya. Namun, tanpa sadar, Anda justru memberi izin akses penuh pada sebuah trojan perbankan yang diam-diam mencuri data pribadi, mengendalikan perangkat, bahkan menguras saldo rekening.
Inilah yang terjadi dengan Mamont, salah satu trojan yang aktif sejak awal 2025. Ia menyamar sebagai aplikasi sah, mencuri kredensial perbankan, pesan teks, hingga informasi pribadi.
Lebih buruk lagi, ada Triada, backdoor berbahaya yang ditemukan di ponsel palsu bermerek terkenal. Trojan ini bahkan bisa mengubah alamat dompet kripto saat transfer, mengganti tautan browser, dan mencegat pesan teks, semua dilakukan tanpa sepengetahuan pengguna.
Indonesia Diintai Trojan UdangaSteal dan SmForw.ko
Di Indonesia, ancaman utama datang dari UdangaSteal dan SmForw.ko. Trojan pertama mengincar data pribadi pengguna, sementara yang kedua diam-diam meneruskan pesan masuk ke nomor lain, memungkinkan pelaku mengintai komunikasi pengguna secara real time.
India, negara tetangga yang juga padat pengguna Android, menghadapi trojan RewardSteal yang menyamar sebagai program penghargaan uang. Tak ketinggalan Turki, yang dihantam gelombang malware seperti Coper dan BrowBot.
“Banyak orang menganggap smartphone lebih aman dari PC, padahal tidak,” kata Anton Kivva, Team Lead Analis Malware Kaspersky. “Saat ini, dengan mayoritas transaksi keuangan dilakukan melalui ponsel, perangkat ini jadi target utama para pelaku kejahatan siber.”
Serangan yang Mengandalkan Ketidaktahuan
Sebagian besar malware Android bergantung pada satu celah utama: ketidaktahuan pengguna. Dari memberikan izin akses yang terlalu luas, hingga mengunduh aplikasi dari tautan tidak resmi, setiap celah kecil bisa jadi pintu masuk besar bagi kejahatan digital.
“Malware zaman sekarang bukan sekadar merusak. Mereka diam, licik, dan sangat spesifik tujuannya: mencuri uang,” ujar Kivva.
Tips Agar Smartphone Tak Jadi Korban
Kaspersky membagikan sejumlah langkah perlindungan agar pengguna tidak jadi korban:
-
Unduh aplikasi hanya dari toko resmi seperti Google Play. Tapi tetap hati-hati—bukan jaminan aplikasi di sana 100 persen aman.
-
Periksa ulasan dan izin aplikasi sebelum instalasi. Jangan asal klik “Izinkan”.
-
Update sistem operasi dan aplikasi sesegera mungkin. Banyak celah keamanan ditutup lewat pembaruan.
-
Gunakan aplikasi keamanan seluler yang andal, bukan sekadar antivirus gratisan yang tak jelas kredibilitasnya.
-
Dan yang paling penting: tingkatkan literasi digital, karena keamanan siber dimulai dari keputusan pengguna sendiri.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































