TIMETODAY.ID — Di tengah teriknya siang, langkah seorang nenek paruh baya tertatih menyusuri jalanan desa di Padalengsar, Desa Bunikasih, Warungkondang, Cianjur. Usai mengambil uang pensiun dari Sukabumi, tubuh rentanya kelelahan. Tanjakan yang curam menjadi tantangan yang tak mudah ia taklukkan seorang diri.
Dengan niat tulus, ia meminta tolong kepada seorang anak kecil yang melintas agar membantunya menapaki jalan yang menanjak. Tak lama setelah itu, si anak berlari pergi. Tapi bukan bantuan yang datang berikutnya—melainkan amarah, tuduhan, dan kekerasan.
Tanpa sempat bertanya atau mencari tahu duduk perkaranya, seorang warga meneriakinya sebagai penculik anak. Warga lain berdatangan. Dalam hitungan menit, kerumunan berubah menjadi kerusuhan kecil. Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat seorang pria melayangkan pukulan berulang kali ke tubuh sang nenek. Tubuh renta itu tak kuasa menahan. Ia hanya bisa menutupi wajah dan terduduk lemah, berusaha melindungi dirinya dari amukan massa.
Wajahnya memar, dagunya lebam, dan matanya memerah—bukti nyata dari betapa rentannya seseorang ketika prasangka lebih cepat menyebar daripada klarifikasi.
Kejadian memilukan ini sontak mengundang gelombang simpati dari masyarakat. Di platform X (dulu Twitter), akun @heraloebss membagikan peristiwa itu pada Senin (5/5/2025), menyulut percakapan nasional soal bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi situasi yang tak pasti.
Beragam komentar memenuhi lini masa, sebagian besar mengecam tindakan main hakim sendiri yang dilakukan warga. Banyak pula yang menyerukan agar pelaku kekerasan segera ditindak tegas.
Di balik luka fisik yang diderita sang nenek, peristiwa ini meninggalkan luka sosial yang lebih dalam: sebuah pengingat bahwa di era serba cepat dan viral ini, kebenaran tak selalu datang lebih dulu. Kadang prasangka menang, dan yang menjadi korban adalah mereka yang paling tak berdaya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































