TIMETODAY.ID, BOGOR – Kabar duka menyelimuti dunia politik Jawa Barat. Permadi Dalung, politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN) yang akrab disapa Kang Dalung, tutup usia pada Sabtu (26/4/2025) malam. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi rekan-rekan separtai, tetapi juga masyarakat yang selama ini merasakan langsung perjuangannya.
Nama Permadi Dalung sudah lama dikenal dalam panggung politik daerah. Sebelum melenggang ke DPRD Jawa Barat, ia terlebih dulu menapaki karier politik dari bawah, beberapa periode ia dipercaya mewakili rakyat Kabupaten Bogor di DPRD setempat. Sosoknya dikenal vokal, berani bersuara lantang dalam memperjuangkan kepentingan konstituen, terutama di bidang pendidikan dan pembangunan desa.
Tak heran, saat kabar wafatnya tersebar luas di media sosial, gelombang ucapan belasungkawa pun membanjiri jagat maya. Rekan-rekan sesama anggota parlemen, tokoh-tokoh masyarakat, hingga warga biasa mengungkapkan rasa kehilangan mereka. Bagi banyak orang, Kang Dalung bukan sekadar politisi; ia adalah teladan tentang bagaimana memperjuangkan suara rakyat di tengah dinamika politik yang sering kali keras.
Meski kabar duka telah menyebar, hingga saat ini pihak keluarga maupun PAN belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab meninggalnya almarhum.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, kondisi kesehatannya memang sempat menurun, namun Kang Dalung tetap aktif menjalankan tugasnya hingga akhir hayat.
Permadi Dalung dikenal pula sebagai sosok yang membangun kedekatan personal dengan banyak kalangan. Ia tidak sekadar berbicara di podium, melainkan juga turun langsung ke tengah masyarakat , hadir di sawah, di kampung-kampung terpencil, mendengarkan dan mencatat apa yang menjadi kebutuhan rakyat.
Kini, jejak perjuangan itu berhenti. Namun semangatnya tetap hidup di tengah masyarakat yang pernah ia bela.
Dalam politik yang kerap dinilai kering empati, sosok seperti Permadi Dalung menjadi pengingat bahwa politik sejatinya adalah tentang kemanusiaan. Tentang mendengar, memahami, dan memperjuangkan.
Editor: B. Supriyadi








































