eSIM, Teknologi Kecil yang Mengubah Dunia: Dari Ide ke Tren Global

eSIM
Ilustrasi dari sim sampai eSIM (istock)

TIMETODAY.ID — Pernahkah kamu membayangkan ponsel tanpa kartu SIM fisik? Beberapa tahun lalu, mungkin terdengar aneh. Tapi kini, berkat teknologi bernama embedded SIM atau eSIM, skenario itu perlahan menjadi kenyataan. Apalagi setelah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mulai mendorong masyarakat Indonesia untuk beralih dari kartu SIM konvensional ke eSIM.

Tapi, bagaimana kisah di balik lahirnya teknologi ini?

Dari Diskusi ke Revolusi Digital

Advertisement

Semua bermula pada 2010, saat Asosiasi GSM (GSMA) mulai menggodok ide tentang kartu SIM digital yang tertanam langsung dalam perangkat. Dua tahun berselang, GSMA yang mewakili lebih dari 750 operator seluler di seluruh dunia mulai mengembangkan konsep eSIM secara serius.

Mengutip Tech Radar, eSIM dikembangkan sebagai perangkat lunak yang tertanam dalam chip bernama universal integrated circuit card (UICC). Namun, ada satu masalah besar: chip UICC saat itu lebih umum digunakan pada perangkat industri dan nyaris tak ditemukan di gadget konsumen.

Untuk menjawab tantangan ini, GSMA akhirnya menciptakan standar UICC khusus untuk perangkat konsumen, yang dirilis pertama kali pada Maret 2016.

Baca Juga :  Cara Cek IMEI Samsung Untuk Memastikan Asli Atau Palsu Sebelum Membeli Ponsel

Langkah Pertama dan Peran Besar Apple

Tahun 2016 jadi tonggak penting. Samsung meluncurkan smartwatch Gear S2 sebagai perangkat pertama yang mendukung eSIM. Tak lama setelahnya, Qualcomm—salah satu produsen chip terbesar dunia—memamerkan prototipe eSIM untuk ponsel pintar.

Apple pun tak ketinggalan. Tahun 2017, mereka menyisipkan eSIM ke dalam iPhone buatan mereka. Langkah ini cukup mengejutkan, tapi masuk akal mengingat Apple adalah klien besar Qualcomm.

Sejak saat itu, semua iPhone di pasar Amerika hadir dengan eSIM. Sementara untuk pasar global, Apple masih menyediakan opsi dual: eSIM dan kartu SIM fisik, mengikuti kesiapan konsumen dan operator di masing-masing negara. China jadi pengecualian, karena operator besar di sana belum mendukung eSIM.

Google dan Samsung Menyusul

Pada Oktober 2017, giliran Google merilis Pixel 2, smartphone Android pertama dengan dukungan eSIM. Google bahkan terus menyempurnakan fitur ini di generasi berikutnya, meskipun mereka sempat beralih dari chip Qualcomm ke Samsung.

Samsung pun ikut bermain. Seri Galaxy S20 dan S21, meski awalnya belum mendukung eSIM secara software, akhirnya mendapat pembaruan pada November 2021. Kini, sebagian besar ponsel flagship Samsung sudah siap dengan eSIM.

Baca Juga :  Headphone Echo Clarity LH01 Meluncur, Vention Bidik Pasar Audio Berkualitas Terjangkau

Beberapa brand seperti Motorola bahkan sudah sepenuhnya beralih—tanpa lagi menyediakan slot kartu SIM fisik.

eSIM Kini dan Nanti

Seiring waktu, eSIM telah mendapatkan tempat di hati pengguna. Kini, operator seluler di lebih dari 190 negara sudah mendukung teknologi ini. Dari segi adopsi, angka-angka juga berbicara: menurut Statista, pada 2021 sudah ada lebih dari 350 juta perangkat yang kompatibel dengan eSIM.

Lebih mengejutkan lagi, angka ini diprediksi melonjak menjadi 14 miliar perangkat pada tahun 2030.

Tak hanya itu, nilai pasar global eSIM juga terus meroket. Dari US$4,7 miliar pada 2023, diperkirakan akan menyentuh angka US$16,3 miliar pada 2027.

Dari sebuah ide kecil tentang chip tertanam, eSIM kini menjadi simbol masa depan komunikasi. Dengan dukungan global yang terus tumbuh, tak heran jika sebentar lagi, kita semua akan berkata selamat tinggal pada kartu SIM yang bisa dicopot-pasang.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel