
TIMETODAY.ID, BOGOR – Keluhan dua keluarga penyandang disabilitas di Desa Leuwinutug, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengenai bantuan pemerintah yang dinilai tidak maksimal, memicu respons dari pihak desa.
Klarifikasi ini disampaikan langsung oleh Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Leuwinutug, Fitria Susanti. Ia menjelaskan langkah-langkah yang telah diambil pemerintah desa dalam membantu kedua keluarga tersebut.
Keluhan bermula dari kondisi Marwan (7), anak pasangan Eka dan Mansyur, serta Enda (15), anak pasangan Ayat dan Erna, yang keduanya merupakan penyandang disabilitas. Orang tua mereka mengungkapkan keresahan atas keterbatasan dukungan yang dirasakan, baik dalam bentuk bantuan maupun perhatian terhadap kondisi anak-anak mereka.
“Anak saya membutuhkan perhatian lebih, terutama dari segi kesehatan dan kebutuhan sehari-hari. Kami merasa bantuan yang dijanjikan tidak selalu kami terima,” ungkap Eka, ibu Marwan.
Menanggapi itu, Fitria menegaskan bahwa pemerintah desa telah memberikan berbagai fasilitas bantuan kepada kedua keluarga tersebut. Bantuan yang dimaksud mencakup Program Keluarga Harapan (PKH), BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI), hingga dukungan alat kesehatan seperti kursi roda.
“Untuk Enda Subandi, segala bentuk bantuan sudah diterima dan aktif. Bahkan, dari segi peralatan seperti kursi roda, kami sudah memfasilitasi,” jelas Fitria saat ditemui di Kantor Desa Leuwinutug, Selasa (7/1/2025).
Fitria juga mengungkapkan upaya desa terhadap Marwan sejak usianya masih kecil. Kala itu, dirinya yang bertugas sebagai kader Posyandu telah memberikan perhatian khusus melalui bantuan kebutuhan dasar seperti pampers, susu, dan biskuit. Marwan bahkan menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam jumlah lebih banyak dari kuota yang biasa diberikan.
“Seharusnya satu anak satu bungkus PMT. Namun, kami memberikan satu dus per bulan kepada Marwan sebagai bentuk perhatian khusus,” tambah Fitria.
Selain bantuan kebutuhan pokok, desa juga memfasilitasi pengobatan untuk Marwan. Pada tahun 2020, pihak desa mengorganisasi perjalanan Marwan ke rumah sakit menggunakan ambulans desa. Proses pendampingan hingga larut malam menjadi bukti komitmen pemerintah desa dalam membantu warganya.
“Kami pernah mendampingi Marwan ke rumah sakit. Itu adalah salah satu bentuk nyata kami membantu,” tegas Fitria.
Namun, Fitria mengakui bahwa bantuan pemerintah memiliki keterbatasan, terutama dalam cakupan dan jumlahnya. Meski begitu, pihak desa memastikan telah mengupayakan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan Marwan dan Enda.
“Untuk kedua anak ini, sudah kami fasilitasi sesuai kemampuan kami. Soal kepuasan, itu kembali kepada penerima bantuan,” tutup Fitria. ***
Reporter: Amelia Azizah




































