Sepenggal Cerita Ata Wijaya, PKL Puncak yang Mengalami Penurunan Omzet Pasca Pembongkaran

Ata Wijaya
Senyum getir terlihat dari wajah Ata Wijaya (72), seorang pedagang kaki lima (PKL) yang telah menghabiskan puluhan tahun berdagang di area Gunung Mas. Ia mengalamai penurunan pendapatan hingga 50 persen pasca pemkab Bogor melakukan pembongkaran dan merelokasi para pedagang ke rest area baru. Foto : timetoday.id/Amelia Azizah.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Senyum getir terlihat dari wajah Ata Wijaya (72), seorang pedagang kaki lima (PKL) yang telah menghabiskan puluhan tahun berdagang di area Gunung Mas, Puncak. Ia mengalami penurunan pendapatan hingga 50 persen pasca pemkab Bogor melakukan pembongkaran dan merelokasi para pedagang ke rest area baru.

“Biasanya, sebelum ada pembongkaran, pelanggan mudah mampir. Sekarang, dengan parkir yang sempit, pendapatan saya turun sampai setengahnya,” kata Ata sambil merapikan dagangannya.

Ia menunjuk ke area parkir yang menurutnya hanya mampu menampung sekitar 500 kendaraan, jauh dari cukup untuk menampung arus wisatawan di kawasan Puncak.

Advertisement

Namun, di balik keresahan itu, harapan masih ada. Penjabat (Pj) Bupati Bogor, Bachril Bakri, menyadari tantangan yang dihadapi para PKL.

Baca Juga :  Pj. Bupati Bogor Roadshow ke 4 Kecamatan, Kenali Wilayah Upayakan Atasi Inflasi, Stunting, Pengangguran Hingga Pilkada Damai

Ia berjanji untuk memperbaiki kondisi di rest area Gunung Mas agar lebih ramah bagi pedagang dan wisatawan.

“Kami sedang berupaya memperluas area hingga 4,3 hektare. Akan ada juga pembangunan area pertunjukan aksi wisata agar semakin menarik pengunjung,” ujar Bachril.

Langkah ini menjadi titik terang bagi Ata dan kawan-kawan. Meski harus berjuang di tengah kondisi sulit, mereka berharap perubahan ini dapat membawa kembali keramaian yang pernah mereka nikmati.

“Kalau ada yang mampir, ya syukur. Kalau tidak, saya hanya bisa bersabar,” tambah Ata dengan senyuman tipis.

Baca Juga :  5 Rumah Terdampak Banjir di Puncak Bogor, Pemkab Berikan Bantuan

Perubahan besar memang tidak terjadi seketika. Bagi para PKL seperti Ata, perjuangan mereka bukan hanya soal mencari penghidupan, tetapi juga mempertahankan eksistensi mereka di tengah arus pembangunan.

Dengan dukungan Pemkab Bogor, mereka berharap kisah ini tidak berakhir sebagai cerita kehilangan, tetapi awal dari babak baru yang lebih baik.

Sambil melayani pelanggan yang singgah, Ata memandang jauh ke arah jalan Puncak yang berkelok.

“Mungkin nanti, orang-orang akan lebih sering mampir lagi. Kami hanya perlu bertahan sedikit lebih lama,” katanya penuh harap. (Cr3)

Follow dan Baca Artikel lainnya di  atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel