Perang 7 Pekan Lawan Iran, Persediaan Rudal AS Terkuras Hampir Separuh

Iran
Ilustrasi rudal. Foto: Reuters

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran selama beberapa pekan terakhir ternyata menyisakan dampak serius pada kesiapan militer Negeri Paman Sam. Persediaan rudal dilaporkan terkuras dalam jumlah besar, memunculkan kekhawatiran jika terjadi konflik lanjutan di masa mendatang.

Laporan terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap, selama sekitar tujuh minggu peperangan, penggunaan amunisi meningkat drastis. Sejumlah jenis rudal strategis bahkan telah digunakan hampir setengah dari total stok yang tersedia.

Disebutkan, militer AS menghabiskan sekitar 45 persen rudal Precision Strike Missiles (PSM), setengah dari sistem pertahanan THAAD, serta hampir 50 persen rudal Patriot.

Advertisement

Tak hanya itu, penggunaan rudal jelajah Tomahawk mencapai sekitar 30 persen dari total persediaan. Sementara rudal Joint Air-to-Surface Standoff Missiles tercatat terpakai lebih dari 20 persen, begitu pula dengan rudal SM-3 dan SM-6 yang digunakan dalam jumlah signifikan.

Baca Juga :  Insiden Drone di Dubai Creek Harbour, Pihak Berwenang Masih Lakukan Pengecekan

Temuan tersebut sejalan dengan perkiraan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) yang sebelumnya juga mengungkap tingginya konsumsi amunisi selama konflik berlangsung.

Meski Pentagon telah meneken kontrak peningkatan produksi rudal sejak awal 2026, proses pemulihan stok diperkirakan tidak bisa berlangsung cepat.

“Pengeluaran amunisi yang tinggi menciptakan celah kerentanan yang meningkat di Pasifik Barat,” ujar Mark Cancian, analis CSIS dan mantan anggota Korps Marinir AS.

Ia menambahkan, diperlukan waktu antara satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali persediaan, bahkan bisa lebih lama untuk mencapai tingkat ideal yang dibutuhkan militer.

Baca Juga :  Piala Dunia 2026 Jadi yang Termahal, FIFA Siapkan Dana Jumbo hingga Rp14 Triliun

Dalam jangka pendek, AS dinilai masih memiliki kemampuan untuk melanjutkan operasi militer jika konflik kembali pecah. Namun, kondisi ini menjadi perhatian serius terutama jika harus menghadapi negara dengan kekuatan militer setara.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa militer AS tetap berada dalam kondisi siap tempur.

“Sejak Presiden Donald Trump menjabat, kami telah melaksanakan berbagai operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang mumpuni untuk melindungi rakyat dan kepentingan nasional,” katanya.

Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perang modern, terutama yang melibatkan teknologi rudal canggih, dapat menguras logistik militer dalam waktu singkat dan membutuhkan strategi jangka panjang untuk pemulihannya.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel