30 Ton Sampah Kepung TNGGP, Relawan Bergerak Bersihkan Kawasan

TNGGP
Relawan EIGER Adventure Land mengangkut kantong sampah dalam aksi bersih-bersih di Zona Pemanfaatan TNGGP, Megamendung, Kabupaten Bogor, pertengahan Maret 2025. Pada tahap awal, 70 relawan berhasil mengangkut 6 ton dari total 30 ton sampah liar yang menumpuk di kawasan tersebut. Foto : Dok. EIGER Adventure Land.

TIMETODAY.ID, BOGOR — Tumpukan sampah liar seberat 30 ton mengepung Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di Desa Sukagalih, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menghadapi kondisi itu, 70 relawan EIGER Adventure Land bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor dan pihak TNGGP berjibaku mengangkut sampah secara bertahap, pertengahan Maret lalu. Pada tahap awal, sekitar 6 ton sampah atau setara empat truk berhasil diangkut dari kawasan konservasi tersebut.

Direktur Utama EIGER Adventure Land, Imanuel Wirajaya, menyebut persoalan sampah di kawasan hulu tidak semata soal volume, melainkan juga perilaku masyarakat.

“Pembuangan sampah sembarangan dapat berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar, mulai dari pencemaran hingga potensi bencana. Perubahan perilaku dan wajib pilah sampah dari sumber sangat penting diwujudkan,” ujar Imanuel dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/4/2026).

Advertisement
Baca Juga :  Bupati Bogor Lantik Tiga Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Di Alun-Alun Kecamatan Jonggol

Kondisi di TNGGP mencerminkan gambaran pengelolaan sampah nasional yang masih jauh dari ideal. Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mencatat, timbulan sampah Indonesia pada 2023 mencapai 56 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, hanya 39 persen yang dikelola dengan baik. Sebanyak 22 persen masih ditimbun dengan metode open dumping, sementara 39 persen lainnya terbuang ke lingkungan melalui pembakaran, pembuangan liar, atau dibuang ke badan air.

Di tingkat daerah, volume sampah Kabupaten Bogor yang mencapai ribuan ton per hari turut memperparah munculnya titik-titik timbulan sampah liar, khususnya di kawasan penyangga seperti Puncak yang rentan terhadap risiko banjir dan longsor.

Baca Juga :  Mobil Tabrak Separator di Jembatan Tiga, Rute TJ Koridor 9 Berubah

Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University sekaligus tim pakar EIGER Adventure Land, Arief Sabdo Yuwono, menegaskan bahwa pendekatan konvensional sudah tidak lagi memadai.

“Diperlukan perubahan sistem pengelolaan sampah mulai dari sumbernya, termasuk kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan serta penguatan sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.

EIGER Adventure Land menyatakan komitmen untuk terus mendorong inisiatif pengelolaan sampah di kawasan Megamendung secara bertahap. Ke depan, perusahaan juga akan mengembangkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi guna mendukung kawasan ekowisata yang berkelanjutan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem wilayah hulu.***

Editor : Syafira

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel