TIMETODAY.ID — Akhir pekan lalu, festival musik Waterbomb 2025 di Seoul, Korea Selatan, kembali mencuri sorotan. Biasanya, festival musim panas yang identik dengan pesta air, musik EDM, dan line-up artis ternama ini disambut meriah ribuan penonton. Namun kali ini, kemeriahan di panggung justru berubah menjadi kontroversi yang memantik kemarahan warganet, terutama di Indonesia.
Gegernya bermula dari sebuah potongan video yang diunggah akun @yeriniff di platform X, Senin (7/7). Dalam video berdurasi pendek itu, terlihat penampilan komedian Lee Suji bersama dua DJ—Neo dan Aster—membawakan lagu Like Jennie milik Jennie Blackpink.
Di panggung yang dibanjiri cahaya neon pink itu, muncul visual mengejutkan: lafaz Allah dan gambar masjid terpampang di layar besar di belakang para penampil.
Tak berhenti di situ, momen tersebut makin memicu reaksi keras karena Lee Suji terlihat bergoyang sensual menghadap penonton dengan latar simbol keagamaan tersebut.
“Guyss ini Waterbomb temanya simbol agama apa gimana? Kok ada lafaz Allah, masjid, dll di background-nya. Sedih banget serasa dibuat mainan,” tulis @yeriniff.
Dalam sekejap, potongan video itu viral lintas platform. Kecaman berdatangan, tak hanya dari warganet lokal Korea, tetapi juga dari netizen Indonesia yang menilai insiden ini sebagai bentuk ketidaktahuan dan kelalaian serius soal sensitivitas agama.
“Hanya orang Korea biasa dengan ketidaktahuan mereka pada tingkat idiot tentang nilai orang lain,” sindir akun @dua***.
Sementara akun @kek*** menimpali, “Masalah SARA dan ignorant ke agama lain emang Korsel juara satu. Ini udah kasus keberapa?”
Gelombang protes pun memaksa DJ Neo angkat bicara. Lewat akun media sosialnya, ia buru-buru menjelaskan bahwa visual kontroversial tersebut sama sekali bukan bagian dari materi yang disiapkan oleh mereka selaku penampil. Neo menegaskan, ada tim khusus yang menangani tayangan visual di panggung.
“Video itu bukan diputar oleh kami, penampil. Ada tim terpisah yang bertanggung jawab atas visual dan kami tidak tahu bahwa video itu diputar saat tampil,” tulis DJ Neo dalam klarifikasinya.
Ia juga meminta maaf dan menegaskan bahwa pihaknya langsung meminta agar tayangan tersebut dihapus segera. “Ketika kami dengar bahwa kalian merasa tidak dihargai, kami langsung meminta agar video dihapus,” tambahnya.
Sebagai salah satu festival musik musim panas terbesar di Korea Selatan, Waterbomb memang terkenal dengan konsep yang unik: pesta air massal diiringi deretan penampilan DJ, idol K-Pop, hingga musisi hip hop.
Panggungnya selalu dipenuhi semprotan air, kostum basah, dan tarian sensual yang memeriahkan suasana. Namun, kebebasan berekspresi di atas panggung kali ini justru memantik luka di hati banyak orang karena bersinggungan dengan simbol-simbol yang dianggap suci.
Kontroversi ini menambah deretan catatan panjang insiden serupa di industri hiburan Korea Selatan, yang beberapa kali tersandung isu sensitif menyangkut simbol agama. Bagi banyak penggemar, insiden ini menjadi pengingat betapa pentingnya memahami batasan budaya—bahwa tak semua elemen visual cocok dijadikan latar pertunjukan hiburan.
Hingga kini, DJ Neo telah meminta maaf, video pun sudah dihapus, tetapi jejaknya terlanjur menimbulkan diskusi panjang: sampai sejauh mana panggung hiburan boleh bermain-main dengan hal yang sakral?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































