Air Hujan untuk Minum, Murni atau Berisiko?

hujan
Ilustrasi hujan (istock)

TIMETODAY.ID — Saat rintik hujan membasahi bumi, sebagian dari kita mungkin pernah bertanya-tanya—apakah air yang jatuh langsung dari langit itu aman untuk diminum?

Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya hidrasi dan pemanfaatan sumber daya alam, pertanyaan ini kembali mencuat. Tak sedikit yang menganggap air hujan sebagai bentuk “air murni dari alam”. Namun, jawaban atas pertanyaan itu ternyata tidak sesederhana langit yang mendung.

“Air apapun secara umum boleh diminum selama kondisinya bersih,” ujar ahli gizi Ansley Hill, RD, seperti dikutip dari Healthline, Minggu (6/7/2025). Tapi, lanjutnya, air hujan tidak selalu bisa langsung diminum karena kualitasnya sangat tergantung pada lingkungan dan kondisi di mana ia jatuh.

Advertisement

Air Langit yang Tak Selalu Suci

Di banyak kota besar dan wilayah berpolusi tinggi, air hujan bisa saja tercemar partikel logam berat, bakteri, bahkan feses hewan yang terbawa angin dan atap-atap rumah. Tak hanya itu, air hujan yang jatuh di lingkungan tercemar bahkan bisa bersifat asam, yang tentu saja tidak ideal untuk dikonsumsi.

Ansley mengingatkan, “Tidak disarankan untuk mulai mengumpulkan dan meminum air hujan kecuali kamu benar-benar yakin air tersebut telah bersih dan aman untuk dikonsumsi manusia.

Baca Juga :  Rambut Rontok Bisa Dimulai dari Kulit Kepala, Begini Cara Merawatnya

Air Hujan, Jika Ingin Diminum…

Bukan berarti air hujan sama sekali tidak bisa diminum. Dengan perlakuan yang tepat, air hujan bisa diolah menjadi sumber air bersih, apalagi di daerah yang kekurangan akses air minum.

Menurut pedoman dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), air hujan yang dikumpulkan untuk dikonsumsi harus disaring, didesinfeksi, dan diuji secara berkala. Salah satu metode sederhana dikembangkan dalam sebuah penelitian oleh mahasiswa Universitas Ibn Khaldun pada 2023.

Mereka membuat alat filtrasi air hujan dari botol bekas air minum besar, dilengkapi dengan pasir silika, zeolit, karbon aktif, dan spons. Hasilnya, air yang awalnya keruh dan berbau berubah menjadi jernih dan layak konsumsi setelah direbus.

Zeolit atau kerikil dapat menyaring kotoran berukuran besar seperti butiran tanah dan lumut. Pasir dan kapas berfungsi menyaring partikel kecil dan menghilangkan bau dalam air,” tulis peneliti dalam laporan mereka.

Antara Mitos dan Fakta

Beberapa klaim menyebut air hujan lebih basa dan baik untuk menjaga pH darah, bahkan bisa membantu pencernaan. Tapi klaim ini tidak didukung bukti ilmiah kuat. Menurut Ansley, air hujan justru cenderung bersifat asam, apalagi jika dikumpulkan di daerah dengan polusi udara tinggi.

Baca Juga :  Botol Minum yang Kamu Pakai Setiap Hari Ternyata Bisa Jadi Sarang Bakteri

Klaim populer lainnya mengenai manfaat kesehatan dari minum air hujan meliputi peningkatan pencernaan dan pengeluaran limbah tubuh yang lebih efisien. Namun, kedua manfaat ini merupakan ciri dari konsumsi air bersih pada umumnya, bukan manfaat khusus dari air hujan,” jelas Ansley.

Menyambut Hujan dengan Bijak

Di akhir hari, air hujan memang membawa kesegaran—secara harfiah maupun simbolis. Tapi bila bicara soal konsumsi, kebersihan dan keamanan tetap menjadi syarat utama. Dengan perlakuan dan penyaringan yang tepat, air hujan bisa menjadi sumber air bersih alternatif. Namun, meminumnya langsung dari langit tanpa proses, adalah risiko yang sebaiknya tidak diambil.

Karena sebagaimana tubuh kita butuh air untuk hidup, ia juga berhak atas air yang benar-benar bersih dan sehat.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel