TIMETODAY.ID — Penampilan bisa jadi panggung perlawanan, ekspresi, atau justru pemicu kontroversi. Begitulah yang terjadi pada Mohammed Ramadan, aktor sekaligus penyanyi Mesir, yang baru-baru ini jadi pusat sorotan bukan karena prestasi panggungnya di festival musik Coachella, melainkan karena busana yang dikenakannya.
Penampilan Bersejarah, Respons Menggelegar
Mohammed Ramadan menorehkan sejarah sebagai orang Mesir pertama yang tampil di panggung Coachella, festival musik bergengsi di Amerika Serikat.
Namun euforia pencapaian ini cepat tergeser oleh debat panas tentang busana yang ia kenakan—sebuah rompi bermotif patung firaun yang disandingkan dengan pakaian bergaya tari perut, lengkap dengan nuansa feminin dan glamor.
Bagi sebagian pihak, ini adalah bentuk kreativitas. Namun bagi para kritikus di tanah airnya, penampilan itu dianggap “tidak jantan”, “menyimpang dari budaya Mesir”, bahkan “memalukan”.
Tak butuh waktu lama, politisi hingga pengacara angkat suara, memicu gelombang tuntutan agar Ramadan dicopot dari keanggotaan serikat aktor Mesir.
Antara Busana, Budaya, dan Batas Kebebasan
Anggota parlemen Mai Osama menyebut Ramadan telah “menyinggung masyarakat Mesir” dan tidak pantas mewakili budaya negaranya di panggung internasional. Bahkan, pengacara Ayman Mahfouz sampai mengajukan peringatan hukum, menuding Ramadan menyebarkan nilai asing yang bertentangan dengan identitas Mesir.
Tak ketinggalan, Alaa Mubarak, putra mendiang Presiden Hosni Mubarak, ikut menyindir lewat media sosial. “Apa kebebasan yang membuat pria mengenakan pakaian wanita di depan umum?” tulisnya. Ia menegaskan bahwa seniman adalah figur publik yang seharusnya jadi teladan, bukan malah memicu kontroversi melalui pilihan berbusana.
Apa Kata Ramadan?
Ramadan sendiri dilaporkan sempat menjelaskan bahwa rompi tersebut merupakan rancangan desainer Mesir, Farida Temraz. Ia menyebut desainnya terinspirasi dari patung firaun, dihiasi mata uang perak Mesir, dan dipadukan dengan jubah firaun hitam. Namun unggahan pembelaannya di Facebook kabarnya telah ia hapus.
Lebih dari Sekadar Pakaian
Kontroversi ini menggambarkan bagaimana tubuh publik seorang selebritas bisa menjadi ajang pertempuran nilai dan identitas. Di satu sisi, ada semangat ekspresi artistik dan globalisasi mode. Di sisi lain, ada batasan budaya dan harapan kolektif terhadap figur publik untuk menjaga citra nasional.
Mohammed Ramadan bukan sekadar aktor di panggung hiburan. Kini, ia juga menjadi aktor dalam drama besar soal kebebasan berekspresi, budaya, dan representasi nasional.
Apakah pakaian bisa merusak martabat bangsa? Atau justru menunjukkan bahwa Mesir pun mampu hadir dalam dialog budaya global? Jawaban itu tampaknya akan terus diperdebatkan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































