Lumpuh Menahun, Enur Dijenguk Mensos Risma di RSUD Leuwiliang

Pada tahun 2020 kondisi Enur memburuk hingga tidak bisa berjalan dan sehari-hari beraktivitas dengan merangkak. Akhirnya Enur diJengkuk Menteri Risma di RSUD Leuwiliang. (FOTO : IST)
Pada tahun 2020 kondisi Enur memburuk hingga tidak bisa berjalan dan sehari-hari beraktivitas dengan merangkak. Akhirnya Enur diJengkuk Menteri Risma di RSUD Leuwiliang. (FOTO : IST)

TIMETODAY.ID Lumpuh belasan tahun, Enur Hayati (66) warga Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dijenguk Menteri Sosial (MensosTri Rismaharini atau Risma di RSUD Leuwiliang.

Diketahui Enur Hayati mengalami lumpuh belasan tahun tepatnya sejak tahun 1982 akibat terjatuh dari lantai dua. Sejak saat itu, Enur Hayati berjalan dengan bantuan tongkat.

Namun, pada tahun 2020 kondisinya memburuk hingga tidak bisa berjalan dan sehari-hari beraktivitas dengan merangkak.

Advertisement

Kepada wartawan, Risma mendapat informasi adanya bahwa putri kedua Enur Hayati yang dilaporkan mengidap down syndrome sejak lahir. Rencananya, Risma akan berkunjung ke kediaman Enur di Desa Ciasihan, Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk mengetahui kondisi putrinya, Iim (15).

“Ternyata ada dua yang sakit, putrinya dan ibunya. Namun, ternyata Kepala Sentra saya bisa membawa ke rumah sakit sini. Sekarang lagi di asesmen untuk sakitnya,” kata Risma.

Baca Juga :  RSUD Leuwiliang Berikan Edukasi Spirit Sejalan

Dengan begitu, Risma berjanji bahwa Kementerian Sosial (Kemensos) bakal membantu penyelesaian kebutuhan-kebutuhan Enur Hayati dan anaknya selama di rumah sakit, terutama pengurusan BPJS Kesehatan.

Menurutnya, Kemensos saat ini akan fokus pada perawatan medis bagi Enur dan Iim, Kemudian Kemensos akan memberikan bantuan pemenuhan hidup layak.

“Tadi ada permintaan-permintaan ibunya, yang terutama untuk keberlanjutan hidupnya. Terutama untuk penghidupannya, begitu,” ujar Risma.

Selama sakit, Enur Hayati diketahui dirawat oleh anak pertamanya, Nurdin Haerudin (32) yang bekerja di sebuah koperasi dengan gaji Rp500 ribu per bulan.

Untuk membantu perekonomian keluarga, Enur Hayati berjualan sembako kecil-kecilan dengan penghasilan Rp50 ribu per hari. Enur sudah berpisah dari suaminya saat Iim berusia lima tahun, sejak saat itu ia membesarkan kedua anaknya seorang diri.

Baca Juga :  Persiapan Pemilu 2024, Dirut RSUD Leuwiliang dan Pejabat Tingkat Kecamatan Tinjau Persiapan Logistik dan Bimtek

Sementara, Sentra Galih Pakuan Bogor memberikan Enur dan keluarga bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) berupa alat bantu walker kaki empat, pemenuhan nutrisi, sembako, alat kebersihan diri, serta uang tunai untuk operasional di rumah sakit.

Kemudian, sambung Risma, Sentra Galih Pakuan Bogor akan melakukan asesmen lanjutan untuk pemberian alat bantu berupa kursi roda yang sesuai dengan kondisi dan kontur tanah serta situasi geografis lingkungan rumah Enur.

Risma juga mengarahkan agar keluarga Enur diberikan bantuan kewirausahaan dan program Rumah Sejahtera Terpadu (RST). ***

 

 

=========================================================